Wednesday, December 21, 2011

Jendela



Aku punya sebuah jendela. Hanya jendela. Aku sudah lupa di mana pintu berada. Sudah bertahun sejak terakhir aku membukanya.
Aku hanya punya jendela dan aku tak pernah berusaha untuk menemukan pintu. Kalaupun kutemukan, kurasa aku tidak akan bisa membukanya. Engselnya pasti sudah berkarat. Gagangnya berat. Dan, oh, entah di mana kusimpan kuncinya.
Jadi kuputuskan kalau aku hanya punya jendela.
Bukankah dia tidak ada bedanya dengan pintu?
Bukankah dia lebih baik dari pintu?
Aku akan duduk di sampingnya. Berteman matahari pagi, siang, atau sore, atau bahkan malam ketika bintang menggantung atau bulan pucat membulat. Tak masalah.
Di atara bingkai kayu segi empat itu, aku akan duduk memandang lalu lalang kehidupan. Tiap lakon dan pemainnya. Termasuk juga dirimu. Akan kusapa engkau saat melintas di depan jendelaku. Dan kita akan berbincang-bincang tentang apa saja.
Tidakkah itu indah?
Kalau kau suka, aku akan duduk di sini menunggumu setiap hari. Di jendela ini. Di mana akan kau temui separuh dariku yang memang sangat menantimu.  Separuh dariku yang sedang tersenyum menanti kehadiran separuh darimu yang memang sangat kuharapkan untuk membalas senyumku.
Jangan kecewa bila kau temukan jendelaku tertutup. Aku bukan sedang marah padamu. Kau tahu aku suka sekali duduk di jendela dan memandang dunia. Tapi kadang matahari menyengatku terlalu tajam. Dan angin bertiup terlalu kencang, sehingga menerbangkan semua harapan yang kusimpan baik-baik di balik jendela. Atau, kadang kurasa sudah terlalu lama aku duduk di sana menunggumu. Sampai letih tapi kau tak juga melintas. Jadi, kututup saja jendelanya. Agar aku tak tahu kau lewat atau tidak.
Apakah aku sedang bersembunyi?
Tidak, kataku. Aku hanya tak ingin tersengat matahari karena panasnya kadang menyakitiku. Dan aku tak  ingin angin membawa pergi harapan-harapanku. Kau tahu, kadang angin bisa menjadi begitu berkuasa. Meski kututup jendelaku rapat-rapat, ia tetap mendobrak masuk. Hening tanpa suara, namun penuh keangkuhan. Merangsek, menerjang, dan mengobrak-abrik segala yang ada. Lalu pergi begitu saja, menyisakan dedaunan kering dan debu jalan bertebaran dalam rumahku.
Kau tahu?
Kurasa aku hanya takut bila suatu hari kau akan berhenti melintas di depan jendelaku… Apa yang harus kukatakan pada separuh dariku, yang sudah terlanjur terperangkap dalam keterbiasaan bertemu dengan separuh darimu? 


Bintaro, dinihari
Diambil dari postingan lama di sini

Wednesday, December 7, 2011

the unpleasant (but necessary) encounter with pain #2

Hi Pain, so I guess this is it. Time for you to go and continue your noble journey teaching lessons to those who need it.
It was nice knowing you. I am not going to keep the memory of our last encounter, but will surely keep the scar that you left (thank you for the scar, by the way).
Now mosey along. Because I will too. Toward different direction.
Until we meet again :)




-Me, finally make peace with everything-

Tuesday, December 6, 2011

the unpleasant (yet necessary) encounter with pain


Hi Pain, how are you doing? Never thought I’d see you again so soon.
You hurt a lot, you know? Don’t you ever wonder why people have been avoiding you since the beginning of the history of humankind and civilization? Tsk.
But then again, you’re just doing your job. So, enjoy your staying here, do what you have to do. Just, don’t mess around too much. 
I’ll thank you later for stopping by. 


(paraphrased from a good friend’s words)

Udin dan Asep


Stasiun kereta pada jam-jam seperti ini adalah tempat berkumpulnya berbagai pemandangan yang jika dipikirkan dan direnungkan sepenuh hati, akan memaksa orang untuk tetap berpijak di bumi.

Tidak peduli gadget apa yang sedang digenggam, baju dan sepatu apa yang melekat di badan, atau berapa banyak kartu kredit di dompet.  Tidak masalah sudah seberapa banyak pertumbuhan ekonomi negara, seberapa jauh tingkat inflasi turun, seberapa besar investasi asing masuk, atau seberapa dalam penetrasi internet. Stasiun kereta ini masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Tak banyak perubahan terjadi, selain cat hijau di sepanjang tepian peron yang mulai sompel di sana sini, papan bertuliskan nama stasiun dan misi PTKAI yang poin terakhirnya berbunyi:

Menjadi perkeretaapian terbaik yang memenuhi harapan stakeholdernya.

Oh, dan tentu saja, beberapa petugas stasiun yang kini berseragam merah marun dengan aksen batik merah muda.

Di sini, roda kehidupan berjalan lebih lambat.

****

Ting, ting, ting, ting!!!

Lonceng tanda akan ada kereta segera melintas. Aku menghindar dari kerumunan orang yang sedang bergerak ke kiri dan ke kanan, sibuk mengatur letak berdiri agar pas dengan letak berhentinya pintu kereta, bersiap untuk terlibat dalam pertarungan rutin memperebutkan jalan masuk ke dalam gerbong.  Kalau kebetulan berada di dekat kerumunan itu, memang sebaiknya menghindar. Meleng sedikit saja, badan pasti akan terbawa arus, entah itu terdorong lalu terjengkang, atau terbawa masuk ke dalam gerbong (dengan kemungkinan tipis untuk bisa keluar lagi).

Aku melipir ke belakang dan duduk di salah satu bangku besi panjang berwarna hijau karatan. Tempat yang tepat untuk menghisap sebatang rokok sambil termenung.

Pertarungan sengit dimulai. Orang-orang sibuk mendorong dan didorong. Petugas stasiun sibuk menghalau kerumunan yang menumpuk di satu pintu. Para copet di pintu memasang tampang polos ketika diteriaki orang-orang supaya ‘minggir’.

Kereta masih belum berangkat. Orang-orang sudah terjejal di dalam gerbong, tumpah ruah hingga ke pintu. Dan untuk yang kesekian kalinya aku mengalami saat-saat kikuk, berhadapan dengan wajah-wajah lelah para penumpang, tanpa bisa menghindar.

Aku menghembuskan asap rokok sambil membuang muka.

Duduk di sini, di antara para pedagang di stasiun ini, siapa yang sanggup terus menyombongkan diri atau mengeluh?

Aku boleh saja meracau setiap hari tentang jalanan macet, pekerjaan menumpuk, hujan deras tak berperasaan, panas terik menggila. Tapi sungguh, itu bukan apa-apa.

Di depanku, tepat di atas rel yang baru saja dilintasi kereta, berdiri beberapa orang ibu-ibu berbadan kecil dan kurus, berkulit hitam legam, mengenakan kebaya lecek dan kain gendong. Di dekat mereka bertumpuk karung-karung sayuran yang ukurannya lebih besar dari badan mereka. Dengan gagah mereka mengangkat karung-karung sayuran itu ke atas pundaknya, sambil berteriak memanggil beberapa rekannya yang menunggu di peron untuk membantu.

Tidak jauh di sampingku, duduk teronggok seorang perempuan dengan tiga orang anaknya yang masih  kecil. Mereka dekil dan lusuh dari ujung kepala sampai ujung kaki: rambut hitam kusam dan gimbal, kulit hitam berdaki, ujung-ujung kuku hitam kelam, baju entah berwarna apa, tapi hitam kotoran mendominasi. Anak yang paling kecil sibuk mengaduk-aduk tong sampah di dekatnya. Si ibu berteriak marah-marah, melarang anaknya main di sana. Ditariknya kuping si bungsu dan digeretnya kembali ke lantai tempat mereka berkumpul. Si bungsu menjerit. Si Ibu menampar. Si sulung menghitung uang dalam dompet kertas dari sisa majalah. Si tengah membereskan kantong entah apa yang nampaknya berisi dagangan mereka.

Dari curi-curi dengar, tahulah aku bahwa anak beranak ini bekerja sebagai pengumpul sisa kardus di pasar di sebelah stasiun.

Stasiun itu sebenarnya dipagar dengan besi terali setinggi kepala. Tapi nampaknya tak ada yang menghiraukan keberadaan pagar-pagar itu. Mungkin ia terbuat dari besi padat. Keras dan kokoh. Namun kewibawaannya sudah hilang dalam hitungan hari.  Tidak sampai seminggu setelah pagar selesai di cat, beberapa sambungan menghilang dari tempatnya. Satu persatu. Disusul kemudian dengan menghilangnya besi-besi padat yang adalah pagar itu sendiri. Sekarang pagar stasiun tak berdaya, karatan dan ompong di sana sini. Di beberapa bagian tampak sudah dilas dan dilubangi sesuai kebutuhan para pedagang yang berjualan di baliknya.

Pedagang memang tak boleh lagi ada di peron. Tapi roda perdagangan tidak boleh terhenti. Transaksi tetap terjadi di sana sini, melalui bolongan-bolongan kecil itu, antara tukang mi instan dengan pembeli yang kelaparan, antara tukang tisu dengan mbak-mbak yang ingin membersihkan kakinya dari debu stasiun, antara tukang rokok dengan, ya, orang semacam aku ini. Orang yang suka duduk termenung di stasiun sambil menyalurkan kegundahan hati lewat hembusan asap rokok.

Di balik pagar-pagar itu juga bertumpuklah warung-warung dengan bangunan nyaris rubuh. Pengunjungnya adalah para kuli, pemilik lapak-lapak di pinggir jalan menuju pasar, sekumpulan anak-anak punk berbaju hitam dengan riasan hitam, serta pengaman-pengamen kecil bermodalkan botol air kemasan berisi pasir atau beras.

Lalu ada Udin dan Asep.

Udin dan Asep adalah kakak beradik pedagang asongan yang biasa hilir mudik di kereta. Ibunya berjualan lauk matang di ujung stasiun, di mana pagar besi sudah habis terkoyak wibawanya, hingga tak sanggup lagi menahan laju orang-orang yang ingin mengambil jalan pintas menuju stasiun.

Biasanya aku menemukan mereka di dalam gerbong kereta, sedang mondar mandir berdagang asongan, atau berjongkok-jongkok di antara kaki-kaki penumpang, menyapu lantai kereta dengan sapu lidi kurus kering yang hanya terdiri dari beberapa lembar lidi saja.
Kalau kebetulan singgah di stasiun itu menjelang tengah hari, aku akan mendapati Udin dan Asep sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah. Mereka mandi di pancuran di dekat WC umum. Selesai mandi, mereka akan menyisir rambutnya dengan tangan, lalu mengenakan seragam sekolah yang kumal dan kebesaran.

Ada kalanya juga kudapati mereka sedang makan siang bersama ibunya. Makan siangnya, yang berhasil kuintip, adalah nasi dengan tumis kangkung. Di dalam satu plastik kresek yang dikeroyok bertiga.

Seperti juga penghuni stasiun lainnya, Udin dan Asep juga selalu membuat kening orang berkerenyit ketika melihat mereka. Mereka kurus kering, dekil, dan intimidating.

Intimidating, karena kesulitan hidupnya tampak begitu nyata, yang membuat sorot mata mereka tajam dan menyakitkan, kalau kau kebetulan beradu pandang dengan mereka. Tatapannya membuatmu bertanya-tanya, adakah kau punya andil dalam penderitaan mereka? Apakah kau bersalah, berdiri di stasiun nestapa itu dengan baju kerjamu yang, meskipun tidak selalu rapi dan licin, namun menunjukkan bahwa kau adalah kelas menengah pekerja yang bermartabat? Apakah kau dan mereka terlibat dalam perjuangan hidup yang sama?

Aku tak pernah berani beradu pandang dengan penghuni stasiun yang manapun.  Kalau ada peminta-minta mendekat dan meminta uang, biasanya kuberikan sambil menunduk, berpura-pura mencari sesuatu dalam tas.

Kenapa?

Entahlah. Kurasa karena aku malu. Malu karena kurasa uang tak seberapa yang kuberikan bukanlah untuk membantu mereka, tapi lebih untuk membayar rasa kasihan yang sungguh membuat hati tidak nyaman.

Udin dan Asep tak pernah meminta-minta. 

Mereka pernah mencoba sekali meminta padaku. Lalu tertangkap basah oleh ibunya. Sambil mengomel, si ibu menjewer kuping Udin dan Asep, menggeret mereka menjauh dariku. Sejak itu, setiap singgah di stasiun, selalu kusempatkan mencarai Udin dan Asep. Kadang aku mendatangi tempat ibunya berjualan lauk matang, untuk memberikan uang sekadarnya. 

Untuk uang jajan anak-anak, atau sekadar bantu-bantu uang sekolah. Tolong jangan ditolak ya Bu, kataku sebelum si Ibu membuka mulutnya untuk protes.

Kau tahu kan tidak ada gunanya memberi mereka uang?

Begitu komentar beberapa teman yang tidak setuju dengan kebiasaanku memberikan uang pada peminta-minta atau anak-anak yang mengamen.

Aku kasihan, tidak tega melihatnya.

Ini bukan masalah tega atau tidak tega, Dal. Kau sedang melestarikan kebiasaan buruk yang hanya akan membuat masalah mereka semakin berlarut-larut.

Tapi perut tidak kenal program jangka panjang, jawabku lagi.

Kalau sudah begitu, mereka lalu diam. Aku juga diam. Dugaanku, pada akhirnya kami sama-sama merasa tidak yakin, pendapat siapa sebetulnya yang benar.

Tapi kurasa, Ibu Udin dan Asep sesungguhnya sangatlah bermartabat. Meskipun bajunya tak serapi dan selicin para komuter yang singgah di stasiun ini. Tapi perjuangannya tak kalah hebat. Paling tidak, lebih hebat dariku, yang meskipun katanya terhitung golongan kelas mengenah ibukota dari kalangan pekerja, tapi hanya bisa terduduk diam sambil mengepulkan asap rokok, mengasihani para penghuni stasiun, dan melestarikan kebiasaan buruk para peminta-minta, tanpa pernah bisa memutuskan, apakah yang kulakukan benar atau salah.

***

Kereta yang tadi diserbu kumpulan manusia kini sudah berlalu. Peron agak sedikit lengang. Hiruk pikuk orang yang lalu lalang berkurang. Tinggal beberapa orang duduk saling berjauhan di bangku besi panjang karatan, masih menunggu kereta berikutnya datang. 

Aku sedang membungkuk untuk melempar sisa puntung rokok ke tempat sampah, ketika sepasang kaki kecil melesat di hadapanku, lalu tersandung di kakiku yang sedang terjulur ke depan. Kuangkat kepalaku. Udin terjajar beberapa langkah ke depan, tapi kemudian berhasil menjaga keseimbangan dan kembali berdiri. Ia menoleh menatapku sekilas. Lalu kembali melesat ke balik karung-karung sayur, dan menghilang ke dalam pasar.

Dari ujung peron terlihat kerumunan orang berlari dan berteriak-teriak.

“Copeet!!! Tangkap!!! Itu dia lari ke ujung!!”
“Hoi! Jangan lari hoi!”
Teriakan bersahut-sahutan terdengar makin lama makin kencang.

Kerumunan itu berhenti tepat di depanku. Salah seorang dari kerumunan itu, laki-laki berbadan besar dengan rambut klimis mencuat runcing di berbagai sisi bertanya padaku:

“Bang, lihat anak kecil pakai baju hitam celana merah lewat sini gak tadi?”

Aku tercekat. Untuk beberapa saat peperangan serius terjadi di dalam kepalaku. Mengumpulkan dan menganalisa. Menyimpulkan. Tadi Udin memang memakai baju hitam dan celana merah. Apa dia copetnya?  Tapi apa iya dia mencopet? Masa iya dia mencopet?

“Dia ngambil HP saya Bang. Lihat gak ke mana larinya?”, tanya si pria klimis lagi.

Otakku berputar. Keputusan harus cepat dibuat.

“Mmm, tadi memang ada anak kecil lari lewat sini, Bang. Tapi saya gak perhatikan bajunya. Dia lari ke arah jalan raya sepertinya”.

Deg.
Aku merasa bongkahan es sebesar batu kali dijejalkan ke dalam tenggorokanku. Apa itu tadi? Apa itu dia yang bernama kebohongan?

“Wah, ke jalan raya ya?”

Laki-laki berbadan besar dengan rambut klimis itu berpandang-pandangan dengan temannya.

“Ayo kita coba kejar aja, pasti belum jauh itu larinya”, salah seorang temannya mencoba menyemangati.

Sambil mengucapkan terima kasih, kerumunan itu berlalu dari hadapanku. Tidak terlalu bersemangat seperti sebelumnya.

Jalan raya yang dimaksud adalah sebuah perempatan besar di bawah fly over, dengan banyak gang kecil di sekitarnya. Si copet pasti sudah menghilang ke salah satu gang kecil itu, dan nyaris tak mungkin mencarinya di sana.

Pak petugas stasiun ternyata tidak ikut melanjutkan pengejaran. Ia masih berdiri di depanku. Sambil menerawang ke arah kerumunan pengejar yang sudah menjauh, ia berkata padaku.

“Yah, kalau mereka rajin sih, cari saja besok HP-nya di penadah di sekitar sini. Paling juga sudah ada yang jual.”

Aku tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Memang betul begitu adanya. Tapi aku merasa gugup dan salah tingkah. Aku merasa seperti tertuduh. Aku merasa Pak petugas stasiun sedang menyampaikan pesan tersirat kepadaku. Kalimat berkode. Tatapan mata menuduh. Meskipun ternyata itu semua hanya bayanganku saja. Pak petugas stasiun sepertinya tidak butuh ditanggapi. Karena begitu selesai mengatakan itu, ia berjalan kembali ke posnya dengan santai.

Just another day at the station.

Aku melirik Ibu Udin dan Asep yang sedari tadi duduk di dekat tempatku duduk, sedikit tertutupi tong sampah. Asep bersembunyi di belakang sambil memegangi baju ibunya. Perempuan dengan badan kurus kering itu hanya diam menatapku. Jika biasanya raut wajahnya keras menunjukkan semangat juang menaklukkan hari demi hari penuh debu dan kotoran di stasiun, kali ini ia adalah seorang ibu yang kecewa dan bersedih.

Aku tidak tahu harus bicara apa padanya. Dan kulihat dia juga sepertinya tidak tahu apakah ia harus bicara atau tidak. Aku tidak percaya kalau Udin mencopet. Buat apa dia susah-susah setiap hari membagi waktu antara membantu ibunya jualan lauk matang di peron, berdagang asongan di kereta, mandi dengan air dari pancuran di balik gerbong, pakai baju dekil kebesaran dan berangkat sekolah, kalau akhirnya dia mencopet juga.

Tapi suara lain dalam hatiku berbisik.

Si Udin tadi memang nampaknya sedang berlari dari sesuatu. Dan dia memang terlihat ketakutan. Tapi itu mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin kalau tidak ada yang bertanya padaku, aku tidak akan berpikir kalau Udin sudah mencopet.

Tapi bukankah itu semakin menguatkan, bahwa Udin tadi memang mencurigakan?

Kalau si Udin memang benar mencopet, berarti aku sudah melindungi pencopet. Berarti aku sudah menjadi kaki tangan pencopet.

Ah, tapi mana bisa aku menuduhnya begitu saja. Ada puluhan pencopet berkeliaran di stasiun ini setiap harinya. Bisa saja salah satu dari mereka yang sudah mengambil HP orang tadi. Toh bukan pemandangan aneh juga melihat Udin berlarian di sepanjang peron. Dan dia memang tidak pernah bicara banyak juga padaku.

Aku teringat lagi tatapan matanya tadi.

Makasih ya Bang.”

Tiba-tiba si Ibu berbicara.

Dan aku merasakan satu bongkahan es sebesar batu kali kembali dijejalkan ke dalam tenggorokanku.


*Antara Bintaro-Manggarai-Depok, ketika mengingat Udin dan Asep*

Sunday, December 4, 2011

how do you know when it's love?

Dearest people, do you love? Do we love?

This is the question that I've been having in the past few years, right after a bumpy experience that has turned my life upside down, down to the point that I no longer recognize it and still wondering up to this day, was that really my life?

I've grown older, just as that bumpy experience grown on me. And my mind has unconsciously started the process of rearranging the structure of my previous belief on things, on life, and love.

Back in my younger days, love was something undefinable, described only with the fast beating heart, trembling knees, sweating hands, and sudden lost for words upon meeting or a mention of the subject of the feeling. Love was magical. And if there was anything negative about love, was that it is draining. It drains the life out of you, and fill you up with something else, something sparkling, something bigger than life. Something like the celebration of the independence day.

I've past thirty now. And I learned my lessons well.

During the years span between the bumpy experience and now, I met a few people, and fell for some of them. And with everyone I met and fell for or had a crush on, one by one all the definitions I used to had about love were proved to be fail, and finally had to be taken out of the list.

So now, to quote from Van Halen, how do you know when it's love?

A friend once insisted that you just knew. You'd just knew when you finally meet your other half. She said, you just need to trust your feeling. Then I said, that's exactly where the problem lies. What kind of feeling that you need to trust?

Is it the heart pounding knee trembling feeling? The sudden inability to speak properly? The sleepless nights that follow after the hours of hours of phone conversation? The feeling of fireworks in your chest that makes your days feel like independence day celebration every time you meet that certain person?

Is it the realization of the similarities you have? The knowledge that both of you turn out to have similar hobbies, read similar kinds of books, watch similar kinds of movies, loves to hang out at similar places, have the same favorite songs?

When I ask these questions, the response I get from my friends would be those of sympathy. They must be thinking how poor this little woman, missing so many beautiful moments people would have when they're in love. How poor this little woman, loosing her faith in love and thus loosing her chance of meeting her other half.

It got me thinking.

Someone said to me, be careful, there's a very thin line between being grown up and being bitter. And I've promised myself, that I'd never, ever, ever, going to be that bitter person carrying dark clouds above her head. I might be silent and distant most of the time, but I don't plan to spend the rest of my life spreading negative energy around me and make the world a bitter place.

But I remember witnessing people I know being in love. They would fluently explaining to me the reasons why they're in love with this certain person, or sometimes, why I should be in love with a certain person: he's handsome, he's nice, he's cute, he's attentive and caring, he's so romantic. He makes my heart flutters with his words. He loves to give surprises. He's always be there for me. He may not be nice but deep down he's a gentle soul. He gets along with my mother. He's the one who understands me better than anyone else. He's a very religious person. He's graduated from this and that. He is very opinionated. He's fun to be with. I love the way he makes me feel. I love how he makes me laugh. We have so many similarities. We read the same books. And the list continues.

Hearing them altogether, that sounds like a perfect quality you want from a partner. But somehow my mind always manage to force me to read them again, one by one. You love him, because he's handsome? Oh, you love him, because he gives you surprises? Let's try again. You love him, because he's a very religious person? Another one. You love him, because you read the same books? Not even five of the criteria above grouped together would be enough to be your reasons for loving someone.

And I finally became fully convinced that no, you cannot reason love like that. That is not love. At least, you don't love  a person for that kind of reasons. You think you love the person, but actually, you don't. You just love what they seem to be to you. You just love the reflection of your imagination. You recreate your imagination on them and you think you love them. You take what you need from them. You think you love them because they make you laugh. Think again, isn't that a selfish motive? Love shouldn't be selfish. You think you love them because you love the way they make you feel. Another selfish motive don't you think? Well, it might be true that you love them, but really, the way they make you feel shouldn't be the only reasons why. You love them because they're always be there for you? Because they always have their shoulders ready for you to cry on? Are you clinging on to them with your dear life? Then what would happen to your own life? Don't you want to claim it? You love them because you read the same books? Uhm, okay. You know the answer.

Most of the people I see, and I have to admit, I've been there too, think that they're in love with a certain person, while actually, they're in love with their own imagination. We don't really love the person. We love them for what we think they are, not what they truly are. We love them because, because perhaps somehow, they look good on us, or we look good on them. We create a picture in our mind, an ideal picture of what our love should be, and pick the most suitable person according to our criteria to be there in the picture. In better situation, they're there because they're assigned by the universe to be there to teach us something. But not necessarily love.

So do we love? Do we love someone? Or do we just love the reflection of our hopes that we put on them? 
And again, isn't that selfish? Wouldn't that be a burden too big to bear for them to have to carry our hopes?

I remember having this feeling for a guy. Despite the fact that I'm not planning to pursue it further, I've been keeping the feeling alive for quite some time, simply because it gives me positive energy. The feeling I had was not the kind of feeling that makes me cringe for feeling insignificant and insecure or uncomfortable, feelings that are usually found in the so called love. The feeling I had was the kind of feeling that makes me feel alive and love myself more than ever. However, no matter how positive the feeling is, I realized that it's the feeling that I've fallen for, not the person. I fell in love with the feeling I had for him, not with him. Thus, I gave it up.

But you cannot just refuse to experience that independence day celebration-like feeling when it comes to you, my friend insisted.

I said, well, most of the time, you have very little control of your feeling, because that's just how feelings are. They're not meant to be tamed. So I wouldn't mind. Such fireworks in your heart would be nice to have. But I wouldn't hold on to it.

The fireworks in your chest are beautiful, just as beautiful as when they're bursting with colors in the night sky. But they don't last. Or rather, most of them don't last. Some of them would last a lifetime, but I'm sure you'd not be able to spot it in the first encounter. You'd probably have to go through all the troubles and accidentally burn your hands on the way to find them. Or you probably would only find them when they're no longer sparkling and bursting in the sky and cheered up by hundreds of people. Probably you'd find them when the sparkles have died down, leaving only a constant glowing light, not too bright, but comforting.

No, I don't despise the ideas of love. But I've learned that it needs more than a pounding heart and fireworks in your chest to spot your other half. And it needs reasons beyond more than just looks or the impression that the person makes upon you, to say that you love them.

Or perhaps, there's just no reasoning at all. Maybe my friend was right after all. You just knew.

So here's where I finally confess, that I still don't have the answer to that Van Halen's question (which in his song, he said he couldn't tell it either but it last forever_now, that's rather difficult isn't it?). I still can't tell when it's love. But I can confidently say that at least I know when it's not.

Do we give too much credit to the word love? Perhaps we do.
Is love overrated? Perhaps it is.

But sometimes, all we need to do to make sure is to just look on the other side, or take a few steps back and look again, or take a few steps forward and look closer, squint harder, or maybe as simple as tilting our head and look at it sideways. Think again. Take your time. 

Love is a strong word, carrying a noble mission, with the right amount of possibility of destruction when not handled with care. Use it sparingly. Treat it wisely.

Friday, December 2, 2011

conversations #2

Some Whatsapp conversations with my close friends (that usually happen during the day)


The first two were on my birthday, right after the birthday greetings


#1
A:  Amiiin, makasih pak bu sekalian atas doanya. Sekali lagi terima kasih
    *matiin mic*
    *turun panggung*
    *panggung kelurahan*


G:  Buu, gincunya jatoh niih dari kantong Ibu... #ngejar


A:  Eiya makasi ya jeung
    *kibas selendang*
    *iniapaya*


L:  Bunda Nisa... #pinjemmic Mudah2an keberkahan menyertai usia yang lalu dan kebaikan 
      serta manfaat menyertai usia yang akan datang...selalu sehat dan bahagia... #halah
      #apasih



G: *setel gitar*


Y: *nari latar*


A:  Makasih ibu-ibu bapak-bapak


Z:  @misbar


A: *nyalain organ*
     *ceritanya pake organ tunggal*


Y:  Tarik mang...


G: *numbuk beras*
     *pupur habis*


H:  Misii... Ada yang ultah ya? #telat
     Met ultah ya Ibu Nisa, semoga selalu berkah dan panjang umur
     *bisa makan gratis gak ya?*
     *mikir*


Z:  Ayu Ting Ting... Ayu Ting Ting.. Ayu Ting Ting...
     *histeria*


L: *backing vocal* siap2 di panggung gaya Pak Dibyo
      Eh gue dulu pernah satu kost lho sama Pak Dibyo #inibeneranlho
      #halahgapentingbangetdeh!



A: *ngakakguling2*
      Selamat siang Depoook! Selamat siang Balikpapaaaan! Yang dibelakang masih
      kuaaaaat???

      *ini Pak Dibyo kalo konser begini*


G:  Aerrrr.... aeeerrr... #jualan *bukanmintasiram*


A: Eh btw makasi lo untuk doanya... ehem
    *mendadak berwibawa*

     Kuwa kuwa kuwa... kuwanya neng kuwanya yang aus...


G:  Tatonya kakaaa..."awas kaca" kakaaaaa... #jualtato


Z:  Yg jualan bunga sape nih? :P
     *makin blunder*
      Gw di Muara Badak nih Nis, masih 5 jam lagi dari Balikpapan :)



H:  Ati ati ketuker Pak...


G:  Jadi inget Lupus. Gusur tukeran pelajar, dituker ama badak...
     #jiaaaalupuuus #ketaoantuwirnye



A:  Gw ingetnya si Khoir doang, ayamnya sapa deh?


G:  Ayamnya Gusur yak? Abdul Khoir kan?


A:  Iya, punya Gusur yak? Ato si Somad?


G:  Ish kau ni! Itu mah Olgaaaa #somadbinindun


H:  Gosip aja... pada kaga kerja ya?


A:  Ya kagalah orang lagi konser. Ayo yang dibelakang mana suaranyaaaaa???!!!!


G:  Tatonya kakaaaa... "senggol bacok" kakaaaaa... #keluarinstoktato


A:  Mau dong Mbak. Yang tulisan "1 x 24 jam tamu harap lapor"


H:  Di manaaaa.... di manaaaa....


G: Abis kakaaa, ada juga yang "mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan nama
     dan gelar" kakaaa....



A:  Yaaah...Yang tulisan "antar kota full music toilet di dalam" bisa?


G:  Bisa pesen kakaaa... Yang "tidak untuk dibaca saat khotib naik mimbar" baru loh
      kakaaa... mau coba?



Z:  Kalo weekend pada diem, nape kalo weekdays jadi pada rame begini yee? 
     *heran. bin. bingung. bin. pelongo*


Y:  Saya kan lagi konsen training, jadi kalem
     *sambil ngecas hp* *skrg lagi break*


-------------------------------------------------------


#2
L:  Gak jadi kesel deh, beneran lho! Habis baca 'keramaian' di atas siang ini keselnya hilang.
     Tapi konsernya udah selesai ya? :(



G:  Udah mbaaa... #rapiinkabelbasbetotlistrik


Y:  Hati2 kesetrum Git...


A:  Besok ada lagi kakak orkesnya di kampung sebelah, kawinan anaknya pakaji somat 
     *kipas2 Lulu*


Y:  Owh udah bubar ya... *elap lipenstip*


L:  *ademmm, smriwing2*
      Anakanya pakaji somat yang mane mpok? Si nurlela? #halahdibahas


G:  #belitemulawak  #ngademdibawahpuunan


Z:  Iya ini gw tampang aje nih yang lagi serem, serius krn lagi miting, tapi dalem ati mah udah
     cekikian dari 
tadi seharian :D


A:  Anaknya pakaji somat nyang entu, si indun, nyang mpoknya si yayan #eh
     Emang Zu, kl lagi pertemuan serayes macem kite ni muka memang harus ikut serayes
     *udah ah udaaah, ngepel lagi sono*


H:  Etdah, percakapan berakhir pada saat jam kerja berakhir, tepat jam 17.10


-------------------------------------------------------------------------------


#3 
G:  Selamat solat Dzhuhur


L:  Suara adzan sahut2an dari keempat masjid sekeliling rumah. Bagaimana dengan wilayah  
     anda? 
     *bangun tidur siang, siap2 solat ashar*


G:  Azan dari musola terdengar dari speaker ruangan


A:  Di mari kaga kedengeran azan dikit juga :D


G:  Situ ajan ndiri aja. Kemaren di panggung runcing bener suaranye, mosok tibang ajan aje
      meragu 
#jiaaaameraguuu


A:  Beklah kalau begitu 
     *pake sarung*
     *naek menara*


G:  Neng, salah menara neng... entu menara aer nyang eneng panjet. Sono noh nyang bener
      neng...
 #tunjukmenaramasjid


Y:  Suaranya tenor ya. Jangan ngebass. Asal jangan menara peninsula. Itu hotel. Apalagi
     menara imperium



A:  Sopran aja dah biar lebih membahana
     *naek menara BTS*
     *memastikan jangkauan sampai ke seluruh engdonesa*


Y:  Salah itu menara sutet. Eh ini kapan solatnyaa? Yuk ah


L: :D :D :D


H:  Gw imam ya. Eh dah pada selesai ya?


Y:  Telat deh lo


G:  Tujuh rokaat aja sekalian magrib, bayar di muka getooo


H:  Emang cicilan bisa di bayar di muka




--------------------------------------------------------------------------------


#4
G:  Assalamulaikum mpok dan baaang... apa kabaaar? semua ade sihaaatt?? #lapmuka
     #gerah



L:  Sihaaatttt pok... Dah nyarap belom nih?


G:  Mau iniiii... barang bocah :D


Z:  Alhamdulillah baek Mpok... *memulai hari ini dengan meeting*


H:  Alhamdulillah yaa...


G:  So something...


Z:  wirklich etwas...


G:  Yo bana rancak.. #eaaaaa


A:  Pagi depoook, pagi jakartaaaa, pagi banteeeen
     *lambai2 sapu tangan*
      Aku dong ketinggalan kereta, jadi skr masih duduk manis di rumah nunggu pak ojek
     *pengumuman penting bgt ini mah*


G: Doa dan briping pagi selesai... kita jadi kuli dulu yaaak..
     #pilihkarungberasmaneyangmodipanggul



Y:  Waalaikumsalam
     Kalian suami istri akan menua bersama, lebih mesralah!!! - Mario Teguh
     Yang ngomong sendirinya belum punya :P


A:  Ini apaaa deh si Mpok :P


-------------------------------------------------------------------------------------------


#5
A:  Btw ini patung apa deh namanya yg di bunderan senayan ini?


Y:  Patung pemuda


G:  Kok ndak mirip seperti pemuda. Lebih mirip pria setengah baya yang kurang waras
      (nyaris naked gitu)



Y:  Ricoh namanya. Mungkin dulunya muda. Skrg udah tua


A:  Gw baru tau namanya Ricoh. Dari tadi gw ajak kenalan diem aja


L:  Kok Yayan kenal?


A:  Dia malu kali ya ga pake baju. Yayan kan kl ngajak kenalan canggih bet.


Y:  Ga mah asal laki gw ajak kenalan. Ga peduli biar cuma patung juga.


G:  Meskipun cuma pake kaen sedikit dan nyaris jatoh? 


Y:  Justru.
     Lagi banyak mahasiswa ganteng2 nih abis sidang tesis. Mo pulang ga jadi2


G:  Cubitin dong satu  #eaaaaa


L:  Ya udah gak usah pulang, di sana aja kalo betah. Lagian jalanan pasti macet lho abis ujan


G:  Megrip! Solat lu pade, abis ngaji pade kerjain dah tu peer yak!


A:  *sambil ngunyah sirih*


H:  Ah, ini rumpian ibu2

conversations

It never ceased to amaze me how some of my close friends actually play along with me in my sometimes-not-so-sophisticated analogy.




#1
D: You should say hi, you know
A: I know. But how? I've forgot how to say hi 
D: Well just say it!
A: I can't. You see, if saying hi requires some kind of a program, then I don't have the program.
    The application won't run because the program has not been installed yet. It has been
    looooong deleted from my system.

D: I think you actually have the program. But there's just too many firewalls.
A: Haha. Firewalls. Rite.
D: You need to deactivate all the firewalls. Come on...
A: *sigh* I know...But then there's this antivirus...
D: Antivirus. That too.
A: Yeah.
D: You need to deactivate them too.
A: Yeah, I need to upgrade them to the more updated version, the one that can recognize new
     program not as virus.



#2
D: It's the wall you've built.
A: I know.
D: Well actually everyone has their own walls, only in different forms.
A: But I realize now that mine's too thick
D: Yeah. Would require hard work to bring it down.
A: I feel sorry for anyone who's trying to bring it down. Well, I'd love to break it down. I'd love to
     have someone breaking it down, because I know I wouldn't be able to do it alone. I'm
     actually open for partnership, you know. A partnership in a construction work, to break down
     walls.

D: Ok, go find a partner then. Make an announcement. Go bid for one.
A: Open a tender. 
D: Open a tender. 
A: *sigh*

Wednesday, November 23, 2011

A Goose's Dream


난 난 꿈이 있었죠
버려지고 찢겨 남루하여도
내 가슴 깊숙히 보물과 같이 간직했던 꿈
혹 때론 누군가가
뜻 모를 비웃음 내 등뒤에 흘릴 때도
난 참아야 했죠 참을 수 있었죠
그날을 위해
늘 걱정하듯 말하죠
헛된 꿈은 독이라고
세상은 끝이 정해진 책처럼
이미 돌이킬 수 없는 현실이라고
그래요 난 난 꿈이 있어요
그 꿈을 믿어요.나를 지켜봐요
저 차갑게 서 있는 운명이란 벽앞에
당당히 마주칠 수 있어요
언젠가 나 그벽을 넘고서
저 하늘을 높이 날을 수 있어요
이 무거운 세상도 나를 묶을 순 없죠
내 삶의 끝에서
나 웃을 그날을 함께해요


Been listening to this song over and over again today. It's simply beautiful.
Here's the English translation:
I used to have a dream
Though thrown away and torn
and looks worn out
I kept it within my heart as if it was a treasure
Sometimes, though someone laughed at me
for an unknown reason
behind my back
I had to endure, I could endure
For that day…
You always tell me worriedly
That pointless dream is a poison
That this world is like a book, where the end is already written
That it is a reality that can’t be reversed
That’s right, I… I have a dream
I believe in that dream.
Just you watch me.
I can proudly confront
That coldly standing wall called fate.
Some day, I’ll climb over that wall
And fly high to that sky
Even this heavy world cannot bind me.
Let’s spend the day when I’ll laugh at the end of my life together…
You always tell me worriedly
That pointless dream is a poison
That this world is like a book, where the end is already written
That it is a reality that can’t be reversed
That’s right, I have a dream
I believe in that dream.
Just you watch me.
I can proudly confront
That coldly standing wall called fate.
Some day, I’ll climb over that wall
And fly high to that sky
Even this heavy world cannot bind me.
Let’s spend the day when I’ll laugh at the end of my life together…